Studi Kasus: Digitalisasi Sistem Inventori untuk Perusahaan Manufaktur

Studi Kasus: Digitalisasi Sistem Inventori untuk Perusahaan Manufaktur

  • September 1, 2025
  • |
  • Oleh Tim Axeel

Dalam dunia manufaktur yang semakin kompetitif, efisiensi operasional menjadi faktor penentu keberhasilan. Salah satu aspek vital yang sering menjadi tantangan adalah pengelolaan inventori. Sistem inventori yang masih manual, seperti pencatatan di buku atau spreadsheet sederhana, tidak hanya memakan waktu, tetapi juga rawan kesalahan manusia. Hal ini dapat mengakibatkan keterlambatan produksi, pemborosan bahan baku, hingga kerugian finansial.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, banyak perusahaan manufaktur mulai beralih ke digitalisasi sistem inventori. Studi kasus berikut akan mengulas bagaimana sebuah perusahaan manufaktur berukuran menengah mengimplementasikan sistem inventori digital, tantangan yang mereka hadapi, solusi yang diterapkan, serta hasil yang diperoleh setelah transformasi.

Profil Perusahaan

Perusahaan yang menjadi objek studi kasus ini bergerak di bidang produksi komponen otomotif. Dengan jumlah karyawan lebih dari 500 orang, perusahaan ini melayani permintaan dari berbagai pabrikan kendaraan nasional maupun internasional.

Sebelum digitalisasi, perusahaan masih mengandalkan pencatatan manual untuk inventori bahan baku, barang setengah jadi, hingga produk jadi. Hal ini menimbulkan sejumlah masalah, seperti:

  • Ketidakakuratan data stok: sering terjadi selisih antara catatan dan stok fisik.
  • Kesulitan monitoring: manajemen tidak bisa memantau ketersediaan stok secara real-time.
  • Keterlambatan produksi: akibat bahan baku tidak tersedia sesuai kebutuhan.
  • Pemborosan: bahan baku kedaluwarsa karena tidak terpantau dengan baik.

Tantangan yang Dihadapi

Beberapa tantangan utama yang dihadapi perusahaan sebelum digitalisasi adalah:

  1. Human error dalam pencatatan
    Penggunaan kertas dan spreadsheet menimbulkan banyak kesalahan input, duplikasi data, serta kesulitan pelacakan riwayat barang.
  2. Kurangnya transparansi antar divisi
    Divisi gudang, produksi, dan keuangan sering kali memiliki data yang berbeda terkait stok dan pergerakan barang. Hal ini menimbulkan konflik dan memperlambat pengambilan keputusan.
  3. Tidak adanya integrasi sistem
    Inventori tidak terhubung dengan sistem akuntansi atau sistem produksi. Akibatnya, data keuangan tidak sinkron dengan pergerakan barang di gudang.
  4. Keterlambatan dalam pengambilan keputusan
    Karena data tidak real-time, manajemen kesulitan untuk memprediksi kebutuhan bahan baku atau merencanakan produksi secara efisien.

Solusi: Digitalisasi Sistem Inventori

Untuk mengatasi tantangan tersebut, perusahaan memutuskan untuk mengadopsi sistem inventori berbasis software dengan pendekatan terintegrasi. Beberapa langkah yang diambil antara lain:

1. Analisis Kebutuhan

Tim IT bersama konsultan bisnis melakukan analisis kebutuhan secara menyeluruh. Mereka memetakan proses bisnis dari mulai penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengeluaran untuk produksi, hingga distribusi produk jadi.

2. Pemilihan Platform

Setelah mempertimbangkan biaya dan skalabilitas, perusahaan memilih sistem ERP (Enterprise Resource Planning) yang sudah memiliki modul inventori, produksi, dan akuntansi.

3. Integrasi dengan Sistem Produksi

Software inventori dihubungkan langsung dengan sistem produksi. Setiap kali ada pesanan produksi baru, sistem secara otomatis mengecek ketersediaan bahan baku di gudang. Jika stok tidak mencukupi, sistem mengirimkan notifikasi ke divisi pembelian.

4. Implementasi Barcode & QR Code

Untuk meningkatkan akurasi, setiap bahan baku dan produk jadi diberi barcode atau QR code. Karyawan gudang menggunakan scanner untuk mencatat keluar-masuk barang secara real-time.

5. Pelatihan Karyawan

Agar transisi berjalan lancar, perusahaan menyelenggarakan pelatihan intensif untuk staf gudang, bagian produksi, dan tim keuangan.

6. Monitoring & Evaluasi

Setelah sistem berjalan, perusahaan menerapkan mekanisme audit dan evaluasi rutin untuk memastikan software digunakan dengan benar.

Hasil Implementasi

Setelah satu tahun menggunakan sistem inventori digital, perusahaan mencatat sejumlah hasil positif:

  1. Akurasi data meningkat 95%
    Human error berkurang drastis karena pencatatan dilakukan otomatis melalui scanner.
  2. Efisiensi waktu 40% lebih cepat
    Proses pencatatan stok yang dulu memakan waktu berjam-jam kini bisa dilakukan dalam hitungan menit.
  3. Transparansi antar divisi
    Semua divisi bisa mengakses data inventori secara real-time, sehingga tidak ada lagi perbedaan data antar departemen.
  4. Penghematan biaya operasional
    Dengan stok yang lebih terkontrol, perusahaan berhasil mengurangi pemborosan bahan baku hingga 25%.
  5. Keputusan bisnis lebih cepat
    Manajemen dapat memprediksi kebutuhan produksi berdasarkan tren penjualan dan ketersediaan stok dengan lebih akurat.

Studi Kasus dalam Angka

Berikut beberapa data nyata setelah implementasi:

  • Waktu pencatatan stok: dari 8 jam → 2 jam
  • Tingkat kesalahan data: dari 20% → 3%
  • Pemborosan bahan baku: berkurang dari 15% → 5%
  • Produktivitas produksi: meningkat hingga 30%

Pelajaran yang Bisa Diambil

Dari studi kasus ini, terdapat beberapa pelajaran penting bagi perusahaan manufaktur lain:

  1. Digitalisasi bukan pilihan, melainkan kebutuhan
    Dengan meningkatnya kompleksitas rantai pasok, sistem manual sudah tidak mampu lagi mendukung pertumbuhan bisnis.
  2. Keterlibatan karyawan sangat penting
    Keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh software, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia.
  3. Integrasi sistem adalah kunci
    Sistem inventori yang berdiri sendiri kurang efektif. Integrasi dengan produksi dan keuangan akan menciptakan ekosistem data yang lebih kuat.
  4. Investasi jangka panjang
    Meski membutuhkan biaya implementasi yang cukup besar di awal, hasil jangka panjang berupa efisiensi dan penghematan biaya akan jauh lebih menguntungkan.

Digitalisasi Sistem Inventori untuk Perusahaan Manufaktur 

Digitalisasi sistem inventori terbukti memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi dan produktivitas perusahaan manufaktur. Dengan akurasi data yang lebih tinggi, proses yang lebih cepat, dan integrasi antar divisi, perusahaan mampu meningkatkan daya saing di pasar.

Studi kasus ini menunjukkan bahwa transformasi digital bukan hanya tren, tetapi sebuah kebutuhan strategis. Perusahaan yang berani berinvestasi pada digitalisasi akan mampu bertahan, bahkan tumbuh lebih pesat di tengah persaingan global.