Jujurly, lo pernah nggak sih merasa capek jadi orang baik terus tapi hidup lo gitu-gitu aja? Sementara itu, teman lo yang agak red flag, manipulatif, atau bahkan toxic, malah kariernya to the moon? It hurts, but it’s true, bestie. Banyak dari kita yang dididik buat selalu humble, ngalah, dan peduli sama perasaan orang lain. Tapi realitanya, di dunia kerja dan bisnis yang keras ini, jadi terlalu "malaikat" malah bikin lo gampang keinjek-injek. Deddy Corbuzier di podcast-nya baru aja nge-spill fakta pahit yang bikin kena mental tapi relate banget: kadang lo butuh sisi "jahat" buat bisa survive dan menang.
Bukan nyuruh lo jadi kriminal ya, please jangan salah paham. Tapi poinnya adalah tentang mentalitas pemenang yang kadang emang harus ruthless. Kalau lo cuma modal kerja keras dan "nrimo", siap-siap aja disalip sama orang yang lebih berani sikut sana-sini. Di video terbarunya, Om Deddy ngebahas soal "Dark Triad"—tiga sifat gelap yang diam-diam dimiliki hampir semua orang sukses kayak Elon Musk atau Steve Jobs. Penasaran kenapa lo harus berhenti jadi people pleaser dan mulai embrace sisi villain lo demi masa depan? Gas, kita bedah satu-satu biar lo nggak fomo sama rahasia sukses jalur langit ini!
The Dark Triad: Starter Pack Wajib Buat Lo yang Mau Glow Up Karier
Istilah "Dark Triad" ini mungkin kedengeran serem atau creepy banget, kayak judul film horor. Tapi in reality, ini adalah kombinasi tiga sifat psikologis yang kalau lo punya (dalam takaran yang pas), bisa jadi senjata paling overpowered buat sukses. Tiga sifat itu adalah Psikopati, Machiavellianism, dan Narsisme. Kedengerannya emang negative vibes banget, tapi coba kita re-frame dikit. Orang-orang sukses itu punya tujuan yang jelas, dan mereka bakal lakuin apa aja buat capai itu. Dark Triad ini ibarat bensin yang bikin mereka nggak peduli sama drama-drama nggak penting di sekitar mereka.
Kalau lo masih mikir sukses itu bisa diraih dengan gandengan tangan sambil nyanyi "Kumbaya" bareng kompetitor, sorry to say, lo lagi halu. Dunia nyata itu kompetisi, bestie. Sifat-sifat Dark Triad ini ngebantu seseorang buat fokus total sama goals-nya tanpa baperan. Bayangin lo punya mental baja yang nggak gampang down cuma karena diomongin orang, atau lo punya strategi canggih buat "main catur" di kantor. Itulah esensi dari Dark Triad. Ini bukan soal jadi jahat murni, tapi soal gimana lo bisa shut down empati lo di momen-momen krusial biar lo bisa ambil keputusan logis yang menguntungkan diri lo sendiri. Self-love yang agak ekstrem, tapi worth it buat hasil akhirnya.
Psikopati: Stop Baperan, Fokus Lo Cuma Cuan dan Goals!
Sifat pertama adalah Psikopati. Eits, jangan bayangin pembunuh berantai di film dokumenter Netflix dulu, ygy. Dalam konteks kesuksesan, psikopati di sini maksudnya adalah kemampuan buat jadi dingin, nggak jujur di situasi tertentu, dan egosentris. Orang dengan trait ini tuh jago banget misahin perasaan dari logika. Mereka nggak bakal overthinking semalaman cuma karena abis negur bawahan atau "makan" jatah promosi orang lain. Bagi mereka, it’s nothing personal, just business. Kalau lo terlalu mikirin "aduh kasihan si A", "aduh nanti si B sakit hati", kelar hidup lo. Kesempatan di depan mata bakal disamber orang lain yang lebih tegaan.
Coba cek diri lo sendiri, seberapa sering lo ngelepasin peluang emas cuma karena "nggak enak" sama teman? Big mistake! Sifat psikopati yang terkontrol bikin lo berani ambil risiko dan keputusan sulit yang orang biasa nggak sanggup lakuin. Lo harus berani dibenci demi goals lo. Ingat kata Om Deddy, kalau lo nggak pernah punya pikiran jahat atau egois sedikitpun, lo naif banget. Sukses butuh pengorbanan, dan kadang yang dikorbanin itu perasaan orang lain (atau perasaan lo sendiri yang sok-sok kasihan). Jadi, mulai sekarang, kurangin bapernya, banyakin egonya dikit demi masa depan yang cerah ceria.
Machiavellianism: The Art of 'Fake It Till You Make It' dan Manipulasi
Lanjut ke trait kedua yang nggak kalah penting: Machiavellianism. Ini tuh seni manipulasi level dewa. Kalau lo liat selebgram atau bos-bos besar yang persona-nya beda banget antara di depan kamera sama aslinya, nah itu dia contohnya. Ini soal membangun pesona palsu demi mencapai tujuan. Jangan munafik deh, kita semua pasti pernah pake "topeng" atau filter—baik di Instagram maupun di dunia nyata—biar kelihatan lebih appealing, kan? Machiavellianism itu soal pinter-pinteran bawa diri dan memutar situasi biar lo yang untung. Lo harus bisa "gocek" lawan bicara lo sampai mereka setuju sama mau lo, tanpa mereka sadar kalau lagi disetir.
Sifat ini mengajarkan lo buat jadi strategis dan kalkulatif. Orang yang punya sifat Machiavellianism tinggi nggak bakal ragu buat main drama atau bersandiwara kalau itu bisa bikin karier mereka stonks. Mereka paham banget kalau kejujuran yang terlalu polos kadang malah jadi bumerang. Di dunia kerja, lo harus pinter cari muka di depan atasan (dalam artian strategis ya) dan pinter main politik kantor. Kalau lo lurus-lurus aja kayak penggaris, lo bakal gampang banget dipatahin. So, belajarlah jadi aktor terbaik di panggung kehidupan lo sendiri. Anggap aja ini skill survival wajib di hutan beton.
Narsisme: Pede Gila Itu Kunci Biar Lo Kelihatan 'Mahal'
Sifat ketiga adalah Narsisme. Fix, ini sering banget dianggap annoying, tapi sadar nggak sih kalau hampir semua CEO top itu narsis abis? Steve Jobs, Elon Musk, mereka semua punya tingkat kepedean yang di luar nalar. Narsisme di sini bukan cuma soal hobi ngaca, tapi soal entitlement—perasaan berhak buat sukses, berhak buat menang, dan merasa diri lo itu superior dibanding yang lain. Rasa percaya diri yang overload ini bikin aura lo jadi main character banget. Kalau lo sendiri nggak yakin lo hebat, gimana orang lain mau percaya sama lo?
Orang narsis itu nggak suka ada yang lebih dari dia, makanya dia bakal kerja mati-matian buat jadi nomor satu. Dia bakal bersaing gila-gilaan karena egonya nggak terima kalau kalah. Dan tebak? Justru dorongan ego itulah yang bikin mereka terus level up. Liat aja produk Apple, itu manifestasi dari kenarsisan Steve Jobs yang pengen produknya sempurna dan eksklusif. Kalau lo mau sukses, lo harus punya sedikit rasa sombong ini. Lo harus yakin kalau ide lo paling valid, karya lo paling slay, dan lo layak dapetin gaji paling gede. Confidence is key, dan narsisme adalah confidence on steroids.
Realita Pahit: Kompetisi Itu Kejam, Nggak Ada Istilah 'Kacang Lupa Kulit'
Sekarang kita masuk ke harsh truth yang sering bikin Gen Z shock. Kita sering denger pepatah "jangan jadi kacang yang lupa kulitnya". Tapi menurut perspektif Dark Triad, kacang itu EMANG HARUS lupa sama kulitnya. Kalau nggak, kacangnya busuk, bos! Maksudnya gini, dalam proses menuju sukses, lo pasti bakal ninggalin beberapa orang di belakang. Entah itu teman tongkrongan yang toxic, lingkungan yang nggak suportif, atau bahkan circle lama yang visi-misinya udah nggak sejalan. Itu wajar dan emang harus terjadi. Lo nggak bisa maksa bawa gerbong kereta api yang berat kalau lo mau lari secepat Ferrari.
Pertandingan hidup itu soal ninggalin orang lain di belakang lo. Period. Kalau semua orang menang bareng, itu bukan kompetisi namanya, tapi arisan. Orang sukses berani mutusin hubungan yang nggak serve purpose mereka lagi tanpa ngerasa bersalah berlebihan. Mereka paham kalau setiap level kehidupan butuh versi diri yang baru dan circle yang baru juga. Jadi kalau ada yang bilang lo sombong atau lupa daratan cuma karena lo lagi fokus ngejar impian dan ninggalin kebiasaan lama, ignore them. Itu tanda kalau lo lagi bertumbuh, sementara mereka stuck di situ-situ aja. Jangan biarkan rasa bersalah nahan lo buat terbang tinggi.
Stop Jadi People Pleaser: Perasaan Orang Lain Nggak Bisa Bayar Tagihan Lo!
Kesimpulannya, berhenti jadi people pleaser yang hidupnya diatur sama ketakutan "apa kata orang". Sifat "jahat" alias Dark Triad yang dibahas Deddy Corbuzier ini sebenernya adalah bentuk pertahanan diri dan fokus tingkat dewa. Kalau lo terlalu sibuk mikirin perasaan teman kantor, perasaan tetangga, atau takut dibilang ambisius, lo bakal berakhir jadi penonton doang dalam kisah sukses orang lain. Ingat analogi Ferrari vs Bus yang Om Deddy bilang? Ferrari kursinya cuma dua karena emang eksklusif dan kenceng, sedangkan bus kursinya banyak karena lambat dan buat rame-rame. Lo mau jadi Ferrari atau Bus?
Hidup ini pilihan, bestie. Lo mau jadi orang "baik" yang selalu ngalah dan akhirnya diinjek-injek, atau jadi orang "jahat" (baca: tegas, strategis, dan berani) yang pegang kendali atas hidup lo sendiri? Orang sukses kayak Elon Musk mungkin dibenci banyak orang, dibilang toxic, dibilang kejam pecat-pecatin orang, tapi liat dampaknya buat dunia. Mereka mengubah peradaban karena mereka nggak peduli sama hate comments. Jadi, mulai hari ini, validasi perasaan lo sendiri, prioritasin goals lo, dan jangan takut buat jadi sedikit "jahat" demi kebaikan masa depan lo sendiri. Your life, your rules!