Masa muda seringkali menjadi medan perang antara mengikuti kata hati atau mendengarkan saran orang lain. Ada banyak advice di luar sana yang sebenarnya justru bisa membunuh potensi besar yang kita miliki. Jika kamu ingin masa tuamu dipenuhi dengan kepuasan dan bukan penyesalan, ada beberapa pergeseran pola pikir dan pilihan berani yang harus kamu ambil sekarang juga.
Jangan biarkan dirimu terjebak dalam rasa takut atau zona nyaman yang semu. Menjadi muda berarti memiliki energi untuk mencoba, gagal, dan bangkit kembali. Berikut adalah prinsip-prinsip hidup yang akan membantumu menavigasi masa depan dengan lebih berkelas dan bermakna.
Mimpi Harus Tinggi, Tapi Bertindak Harus Cepat (Think Big, Move Fast)
Banyak orang bilang, "Jangan mimpi ketinggian, nanti kalau jatuh sakit." Ini adalah salah satu saran terburuk yang bisa kamu dengar. Mimpi dan visi hidupmu haruslah besar, tapi cara mencapainya dimulai dari langkah-langkah sekecil mungkin. Prinsip utamanya adalah: Think Big, Start Small, and Move Fast.
Keunggulan kamu saat masih muda dan belum menjadi "korporasi besar" adalah kecepatanmu dalam beraksi. Jangan takut gagal. Lakukan iterasi—mulai sesuatu, gagal, ubah sedikit, lalu coba lagi. Perubahan besar tidak terjadi lewat satu lompatan raksasa, melainkan lewat ribuan perubahan kecil yang terus diulang sampai kamu menemukan jawabannya. Selama kamu mau melakukan iterasi, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan.
Ambisi Bukan Musuh, Tapi Amunisi untuk Bangkit
Di lingkungan tertentu, perempuan yang ambisius atau berapi-api seringkali dikesampingkan. Padahal, ambisi adalah amunisi terbaik yang membuat kita mampu bangkit setiap kali mengalami kegagalan atau ketidakpastian. Ambisi sangatlah sehat, asalkan digunakan untuk melayani pertumbuhan dirimu sendiri, bukan sekadar memuaskan ekspektasi orang lain.
Gunakan ambisimu untuk menjadi pencipta realita yang kamu inginkan. Tidak perlu merasa "harus" sempurna setiap hari, karena kata "harus" seringkali menjadi beban yang menghambat. Cukup fokus untuk menjadi lebih baik dari kemarin. Hargai setiap prosesmu, dan ingatlah bahwa ada waktunya untuk berjuang keras, tapi ada juga waktunya untuk beristirahat sejenak agar tidak burnout.
Passion Itu Dibangun lewat Aksi, Bukan Sekadar Ditemukan
Seringkali kita merasa frustrasi karena belum "menemukan" passion dalam hidup. Ternyata, passion bukanlah sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit atau sesuatu yang kita miliki sejak lahir. Passion adalah sesuatu yang kita bangun lewat aksi dan proses yang konsisten.
Bisa jadi kita memulai sesuatu hanya karena kita cukup mahir di bidang itu, lalu seiring berjalannya waktu dan setelah kita melakukan investasi waktu serta energi, kita baru merasa jatuh cinta dan passionate pada bidang tersebut. Jangan mudah menyerah dan pindah kerja hanya karena merasa "nggak passionate" dalam waktu singkat. Membangun dan menguji apakah suatu bidang adalah jalan hidupmu itu butuh waktu dan ketekunan.
Tidur dan Budgeting: Investasi Kesehatan dan Masa Depan
Banyak yang bilang "tidur itu buang-buang waktu" atau "tiga jam tidur sudah cukup". Ini adalah pola pikir yang berbahaya. Tidur adalah hak dan bakat natural tubuh yang harus dijaga. Kualitas tidur yang baik akan meningkatkan karier, membantu pemecahan masalah, dan menjaga kesehatan mental dari kecemasan yang meningkat di era global ini.
Sama halnya dengan mengelola keuangan. Jangan pernah meremehkan budgeting. Ada yang bilang, "Jalani saja, yang penting nggak minus." Faktanya, budgeting membantu kita mengambil keputusan logis. Tanpa rencana anggaran, rezeki lebih yang diberikan Tuhan bisa habis begitu saja untuk hal konsumtif (seperti DP mobil) daripada hal produktif (seperti dana pendidikan). Atur keuanganmu sekarang, meskipun dimulai dari jumlah yang kecil, agar masa depanmu lebih sejahtera.
Hubungan Adalah Tim, Bukan Tanggung Jawab Satu Pihak
Dalam hubungan, saran "kalau dia mau, dia pasti berusaha" (if he wanted to, he would) seringkali menempatkan seluruh tanggung jawab hubungan ke pundak satu orang saja. Padahal, hubungan yang sehat dijalankan oleh dua belah pihak sebagai satu tim. Advice yang lebih baik adalah: If WE want, WE would.
Sebelum masuk ke dalam hubungan, penting untuk memiliki kecerdasan emosional yang terdiri dari tiga pilar: self-awareness (sadar akan luka dan pola diri sendiri), self-management (mampu mengelola emosi), dan empati. Hubungan bukan mencari orang yang 100% sama dengan kita, melainkan tentang bagaimana dua orang yang berbeda saling mengisi dan bertanggung jawab untuk mengusahakan hubungan tersebut berhasil.
Jangan Tunggu Siap, Mulailah dengan Mindset "70% Cukup"
Advice terburuk lainnya adalah "tunggu sampai kamu siap". Bagi seorang perfeksionis atau overthinker, rasa siap itu tidak akan pernah datang 100%. Bahkan maestro seperti Leonardo da Vinci menghabiskan 16 tahun untuk terus memperbaiki lukisan Monalisa karena ia merasa belum sempurna.
Jika kamu menunggu benar-benar siap, kamu mungkin tidak akan pernah memulai. Gunakan prinsip bahwa merasa 70% siap itu sudah cukup. Mulailah dulu, baru kemudian kamu "menyiapkan diri" di sepanjang perjalanan. Terutama selagi muda, jangan terlalu terpaku pada pilihan yang hanya "realistis" demi mengejar gaji atau fasilitas instan jika itu membunuh aspirasimu. Ambillah risiko untuk mengeksplorasi apa yang benar-benar selaras dengan misi pribadimu sebelum tanggung jawab hidup menjadi semakin berat di masa tua.