Banyak bisnis lokal di Solo sudah mulai sadar pentingnya digital marketing. Instagram dibuat, Google Maps diklaim, bahkan ada yang sudah coba pasang iklan. Tapi anehnya, hasilnya sering tidak sesuai ekspektasi. Biaya jalan, waktu habis, tapi penjualan tidak naik signifikan.
Masalahnya bukan karena digital marketing tidak bekerja, tapi karena cara menjalankannya yang keliru. Di artikel ini, kita bahas kesalahan digital marketing yang paling sering dilakukan bisnis lokal di Surakarta, supaya kamu bisa menghindarinya sebelum makin boncos.
Menganggap Digital Marketing Cukup dengan Media Sosial
Fokus Upload, Lupa Tujuan Penjualan
Kesalahan paling umum adalah menganggap digital marketing itu sebatas rutin upload konten di Instagram atau TikTok. Banyak bisnis rajin posting, tapi tidak pernah mikir kontennya mengarahkan ke mana. Tidak ada CTA yang jelas, tidak ada jalur ke WhatsApp, dan tidak ada strategi lanjutan setelah orang melihat konten.
Akhirnya akun memang jalan, tapi tidak pernah terasa dampaknya ke omzet. Digital marketing seharusnya bukan soal ramai, tapi soal menghasilkan transaksi.
Tidak Mengoptimalkan Google Maps Secara Serius
Google Maps Dianggap Pelengkap, Padahal Sumber Pelanggan Utama
Banyak pemilik bisnis di Solo menganggap Google Maps hanya formalitas. Profil dibiarkan seadanya, foto jarang di-update, deskripsi tidak dioptimasi, dan review tidak dikelola. Padahal untuk bisnis lokal, Google Maps sering jadi pintu pertama calon pelanggan sebelum datang atau menghubungi.
Saat bisnis kamu tidak muncul di pencarian Google Maps, secara tidak langsung kamu sudah kalah dari kompetitor, meskipun produkmu lebih bagus.
Pernah Pasang Iklan, Tapi Tanpa Strategi Jelas
Target Terlalu Luas dan Tidak Relevan
Kesalahan berikutnya adalah memasang iklan digital tanpa memahami target audiens. Banyak bisnis lokal Solo menargetkan iklan terlalu luas, bahkan nasional, padahal layanannya hanya melayani area tertentu. Akibatnya, iklan dilihat banyak orang, tapi bukan calon pembeli.
Iklan digital bukan soal berapa banyak yang lihat, tapi siapa yang lihat dan mau beli.
Tidak Memiliki Website atau Landing Page yang Siap Jualan
Mengandalkan Sosial Media Sepenuhnya
Masih banyak bisnis lokal yang tidak punya website atau landing page. Semua trafik dari iklan dan media sosial langsung diarahkan ke DM. Masalahnya, tidak semua orang siap chat langsung. Banyak yang ingin membaca dulu, membandingkan, atau melihat testimoni.
Tanpa website yang rapi dan informatif, peluang closing sering hilang sebelum sempat terjadi.
Konten Tidak Relevan dengan Target Lokal
Ikut Tren Nasional Tapi Tidak Nyambung
Kesalahan yang sering tidak disadari adalah membuat konten yang terlalu umum atau ikut tren nasional tanpa mempertimbangkan konteks lokal Solo. Konten memang bisa ramai, tapi tidak relevan dengan kebutuhan calon pelanggan di sekitar lokasi bisnis.
Konten yang efektif untuk bisnis lokal justru yang terasa dekat, relate, dan menjawab masalah sehari-hari warga sekitar.
Tidak Mengelola Review dan Testimoni dengan Baik
Review Dibiarkan Tanpa Respon
Review pelanggan adalah aset besar, tapi sering diabaikan. Banyak bisnis hanya senang saat dapat review bagus, tapi tidak membalasnya. Lebih parah lagi, review negatif dibiarkan tanpa klarifikasi.
Padahal, calon pelanggan sangat memperhatikan cara bisnis merespons ulasan. Sikap profesional di kolom review sering jadi penentu keputusan beli.
Tidak Mengukur Data, Hanya Mengandalkan Perasaan
Merasa Sudah Promosi, Tapi Tidak Tahu Hasilnya
Kesalahan klasik lainnya adalah menjalankan digital marketing tanpa membaca data. Tidak tahu berapa orang yang klik, berapa yang chat, berapa yang benar-benar jadi pembeli. Semua hanya berdasarkan feeling.
Tanpa data, bisnis tidak tahu apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dihentikan. Akhirnya kesalahan yang sama terus diulang.
Bekerja dengan Vendor yang Tidak Paham Pasar Lokal
Strategi Bagus Tapi Tidak Kontekstual
Tidak semua strategi digital marketing cocok untuk semua daerah. Bisnis lokal Solo punya karakter pasar sendiri. Saat bekerja dengan vendor yang tidak memahami kondisi lokal, strategi yang dipakai sering terlalu generik dan tidak membumi.
Akibatnya, biaya jalan, tapi hasilnya tidak terasa.
Tidak Konsisten Menjalankan Strategi
Baru Jalan Sebentar, Sudah Menyerah
Banyak bisnis berhenti di tengah jalan karena merasa digital marketing tidak cepat menghasilkan. Padahal, strategi digital membutuhkan waktu, konsistensi, dan evaluasi berkala. Bukan one time project.
Bisnis yang berhasil biasanya adalah yang sabar membangun sistem, bukan yang berharap hasil instan.
Strategi dan Arah Dalam Bisnis
Kesalahan digital marketing bisnis lokal Solo umumnya bukan karena kurang modal, tapi karena kurang strategi dan arah yang jelas. Digital marketing bukan soal ikut-ikutan, tapi soal memahami pasar, memanfaatkan channel yang tepat, dan mengelola data dengan benar.
Jika bisnis kamu merasa sudah promosi tapi hasilnya stagnan, bisa jadi kamu sedang melakukan salah satu kesalahan di atas. Dengan evaluasi yang tepat dan pendampingan yang paham kondisi lokal, digital marketing justru bisa jadi alat pertumbuhan paling efektif.
Axeel Technology hadir untuk membantu bisnis lokal di Surakarta agar tidak sekadar online, tapi benar-benar menghasilkan.