Banyak anak muda zaman sekarang sebenarnya sudah punya kemampuan bisnis yang luar biasa. Mereka tahu cara membaca peluang, pandai bernegosiasi, dan punya jaringan yang luas. Tapi sayangnya, banyak di antara mereka yang berhenti di tahap “makelar” — hanya jadi perantara tanpa benar-benar memiliki bisnis sendiri.
Menjadi makelar bukan hal buruk. Itu justru tahap awal yang bagus untuk belajar memahami pasar, mengenali karakter klien, dan membangun jaringan. Namun, jika terlalu lama berada di posisi itu, kamu akan kehilangan momentum untuk berkembang.
Artikel ini membahas langkah konkret untuk naik level dari seorang makelar menjadi pemilik bisnis atau CEO. Bukan teori kosong, tapi strategi yang bisa kamu terapkan langsung di dunia nyata, terutama di era digital 2025.
1. Ubah Pola Pikir: Dari Komisi ke Kepemilikan
Kesalahan paling umum para makelar muda adalah berpikir bahwa kesuksesan diukur dari besar kecilnya komisi yang didapat. Padahal, komisi itu bersifat sementara. Hari ini kamu dapat, besok bisa hilang.
CEO sejati tidak mengejar komisi, tapi kepemilikan. Mereka membangun sistem, aset, dan brand yang menghasilkan pendapatan berulang.
Contohnya, seorang makelar properti yang pintar bisa mulai dengan membuat agensi kecil sendiri. Dia tidak lagi hanya menjual rumah milik orang lain, tapi mulai membangun sistem penjualan, merekrut tim, dan menciptakan brand pribadi. Dari sini, penghasilannya bisa berkembang jauh lebih besar karena ada nilai tambah dan sistem yang bekerja untuknya.
2. Gunakan Pengalaman Sebagai Fondasi Bisnis
Sebagai makelar, kamu sudah belajar banyak hal penting: bagaimana menghadapi klien, menegosiasikan harga, membaca kebutuhan pasar, dan menjaga reputasi. Semua pengalaman itu jangan dibiarkan hilang begitu saja. Jadikan fondasi untuk membangun bisnis kamu sendiri.
Misalnya, jika kamu selama ini menjadi perantara proyek digital, gunakan pengalaman itu untuk membangun tim digital agency kecil. Jika kamu terbiasa menjual produk orang lain, mulailah memproduksi atau mengemas produkmu sendiri.
Intinya, jangan berhenti di “jualin punya orang”. Mulailah berpikir bagaimana caranya agar kamu punya produk, layanan, atau sistem yang bisa dijual berulang kali.
3. Fokus pada Pembangunan Brand
Di dunia bisnis modern, brand adalah aset paling berharga. Orang lebih percaya pada nama yang punya reputasi dan nilai kuat. Karena itu, kamu harus mulai membangun personal brand dan brand bisnis secara bersamaan.
Mulailah dari hal sederhana: tampil konsisten di media sosial, tunjukkan hasil kerja nyata, berikan edukasi tentang bidang yang kamu kuasai, dan bangun citra profesional.
Ketika brand kamu mulai dikenal, orang tidak lagi melihatmu sebagai “makelar”, tapi sebagai “ahli” atau “penyedia solusi”. Dan di situlah perbedaan besar terjadi: kamu mulai dihargai bukan karena barang yang kamu jual, tapi karena kepercayaan terhadap nama kamu.
4. Buat Sistem Kerja yang Bisa Dijalankan Tanpa Kamu
Seorang CEO sejati tidak bekerja sendiri. Mereka membangun sistem yang bisa berjalan bahkan ketika mereka tidak berada di tempat.
Kalau kamu ingin naik level, mulai buat sistem kecil dalam bisnis kamu. Misalnya:
- Buat sistem database pelanggan agar semua kontak tersimpan rapi.
- Gunakan CRM (Customer Relationship Management) untuk melacak komunikasi dan penawaran.
- Bangun tim kecil, bahkan jika hanya dua atau tiga orang, untuk menangani tugas rutin.
Tujuannya adalah agar kamu bisa fokus pada pengembangan bisnis, bukan sekadar mengerjakan operasional harian.
Dengan sistem yang kuat, kamu tidak lagi jadi “makelar sibuk”, tapi pemimpin yang memegang kendali penuh terhadap bisnisnya.
5. Gunakan Teknologi untuk Meningkatkan Skala
Tahun 2025 adalah era di mana teknologi menentukan kecepatan tumbuhnya bisnis. Siapa yang tidak memanfaatkan teknologi akan tertinggal.
Kalau kamu ingin naik kelas dari makelar ke CEO, mulailah dari digitalisasi. Buat website profesional, gunakan tools otomatisasi, dan bangun sistem digital marketing.
Misalnya:
- Website profil bisnis membuat klien percaya kamu profesional.
- Sistem penjadwalan otomatis memudahkan komunikasi dengan prospek.
- Digital marketing memungkinkan kamu menjangkau pasar yang jauh lebih luas tanpa biaya besar.
Jika kamu belum punya kemampuan teknis, kolaborasi dengan tim profesional seperti Axeel Technology, yang fokus membantu bisnis membangun sistem digital, website, dan strategi pemasaran online. Teknologi adalah kunci agar bisnis kamu tidak stagnan di tahap manual.
6. Bangun Jaringan yang Bernilai, Bukan Sekadar Luas
Banyak makelar punya jaringan luas, tapi tidak produktif. Mereka mengenal banyak orang, tapi tidak punya hubungan yang saling menguntungkan.
Untuk menjadi CEO, kamu harus punya network dengan nilai tinggi. Artinya, jaringan kamu berisi orang-orang yang bisa saling kolaborasi, bertukar peluang, atau bahkan jadi investor.
Caranya bukan dengan menambah kontak tanpa arah, tapi dengan membangun reputasi dan kepercayaan. Aktiflah di komunitas bisnis, ikut acara networking, dan berikan kontribusi nyata agar orang lain melihat nilai kamu.
Ingat, koneksi bukan tentang siapa yang kamu kenal, tapi siapa yang percaya pada kamu.
7. Ubah Strategi Kerja dari “Transaksi” ke “Kolaborasi”
Seorang makelar hidup dari transaksi. Seorang CEO hidup dari kolaborasi.
Kalau kamu masih fokus pada satu deal satu kali, kamu akan terus kelelahan. Tapi jika kamu membangun hubungan kerja jangka panjang dengan partner yang tepat, kamu bisa menciptakan aliran pendapatan berulang.
Contohnya, daripada terus mencari proyek baru, bangun kerja sama permanen dengan supplier, klien tetap, atau tim digital. Dengan begitu, kamu punya penghasilan yang stabil tanpa harus terus berburu transaksi baru.
Kolaborasi juga membuka peluang untuk belajar dari orang lain, memperluas kapasitas bisnis, dan menciptakan inovasi baru.
8. Pahami Keuangan dengan Serius
Salah satu hal yang membedakan makelar dengan CEO adalah pemahaman tentang keuangan.
Makelar sering kali fokus pada berapa uang yang masuk hari ini. Sementara CEO berpikir tentang bagaimana uang itu bekerja untuk jangka panjang.
Mulai biasakan mencatat pemasukan dan pengeluaran bisnis. Pisahkan uang pribadi dan uang usaha. Pelajari cara membuat laporan keuangan sederhana, dan pahami konsep cash flow.
Kalau kamu sudah terbiasa mengelola arus keuangan, kamu akan tahu kapan bisnis kamu sehat, kapan perlu ekspansi, dan kapan harus berhenti sejenak untuk evaluasi.
9. Siapkan Tim yang Tumbuh Bersama
Tidak ada CEO sukses yang berdiri sendiri. Mereka selalu punya tim yang tumbuh bersama.
Kamu tidak perlu langsung merekrut banyak orang. Cukup mulai dengan satu atau dua orang yang punya kemampuan melengkapi kamu. Misalnya, kamu jago marketing, rekrut orang yang paham keuangan atau desain.
Yang penting, pilih orang yang punya visi sama: tumbuh bersama, bukan hanya bekerja sementara.
Bangun budaya kerja yang terbuka, komunikatif, dan berbasis hasil.
Kalau tim kamu kuat, kamu bisa fokus mengembangkan arah bisnis tanpa terjebak di detail teknis.
10. Investasi pada Diri Sendiri
Sebelum kamu jadi CEO perusahaan, kamu harus jadi CEO untuk diri sendiri dulu.
Artinya, kamu harus punya disiplin, rencana, dan visi yang jelas. Terus belajar, baca buku bisnis, ikut pelatihan, dan cari mentor. Jangan pernah puas dengan kemampuan yang kamu punya sekarang, karena dunia bisnis terus berubah.
Investasi terbesar bukan pada aset atau alat, tapi pada kemampuan dan mindset kamu. Ketika diri kamu berkembang, semua sistem dan bisnis di bawah kamu akan ikut naik level.
Makelar menjadi CEO
Naik level dari makelar menjadi CEO bukan hal mustahil. Tapi butuh perubahan cara berpikir dan cara bertindak.
Mulailah dari mengubah fokus dari komisi ke kepemilikan, dari transaksi ke kolaborasi, dari kerja manual ke sistem digital.
Manfaatkan pengalaman yang kamu punya, bangun brand pribadi, dan kelola jaringan dengan strategi jangka panjang.
Jika kamu mau melangkah lebih cepat, jangan ragu memanfaatkan teknologi sebagai pendukung utama. Kolaborasi dengan tim profesional seperti Axeel Technology bisa jadi langkah konkret untuk membuat bisnis kamu lebih terstruktur, modern, dan siap bersaing di era digital.
Ingat, menjadi CEO bukan soal gelar atau jabatan, tapi soal bagaimana kamu membangun sistem yang membuat bisnis terus tumbuh bahkan tanpa kamu harus bekerja 24 jam.
Dan di tahun 2025 ini, kesempatan terbuka lebar. Tinggal kamu pilih: mau terus jadi makelar yang sibuk tapi jalan di tempat, atau mulai membangun bisnis yang bisa kamu sebut sebagai milikmu sendiri.