Pernah ngerasa hidup lo tuh… ya gitu-gitu aja? Bangun, kerja/kuliah, nongkrong, rebahan, scroll medsos, repeat. Rasanya kayak jalan di tempat, sementara orang lain kayaknya udah jadi “somebody”: nikah muda, bisnis sukses, traveling ke Eropa, atau viral di TikTok. Nah, sebelum lo keburu overthinking dan ngerasa hidup ini nggak adil, kenalin dulu konsep Stoikisme—sebuah filosofi hidup yang lagi naik daun di kalangan Gen Z.
Stoikisme ngajarin cara menghadapi hidup biar tetap cool walau kondisi lagi “meh”. Jadi kalau lo sering mikir “hidup gue kok flat banget ya?”, artikel ini bakal jadi guide santai buat lo tetap waras, produktif, dan bahagia di tengah hidup yang keliatan biasa-biasa aja.
1. Kenalan Dulu Sama Stoikisme
Sebelum kita bahas tipsnya, mari kenalan dulu sama apa itu Stoikisme.
Stoikisme berasal dari filsafat Yunani Kuno, yang basically ngajarin kita buat fokus sama hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan cuek sama yang nggak bisa kita kontrol. Marcus Aurelius, salah satu “role model” Stoik, pernah bilang:
“Kebahagiaan hidup lo tergantung sama kualitas pikiran lo.”
Artinya, kunci ketenangan bukan di luar sana—bukan gaji, pasangan, atau jumlah like di Instagram—tapi gimana lo mikir dan merespon dunia.
2. Stop Bandingin Diri Sama Orang Lain
Di era medsos, banding-bandingin diri itu kayak refleks. Liat temen pamer liburan, langsung mikir, “Kok gue masih ngurusin kerjaan kantor aja?”. Padahal, lo cuma ngeliat highlight hidup orang lain, bukan behind the scenes-nya.
Stoikisme ngajarin:
- Fokus sama progress diri sendiri, bukan timeline orang lain.
- Hargain proses kecil setiap hari.
- Jangan pakai standar orang lain buat ngukur sukses lo.
Hidup gini-gini aja bukan berarti lo kalah. Bisa jadi lo lagi ngumpulin fondasi yang orang lain nggak liat.
3. Kendalikan yang Bisa, Lepasin yang Gak Bisa
Lo nggak bisa maksa ekonomi naik, bos jadi pengertian, atau pasangan jadi lebih romantis. Yang bisa lo kontrol cuma respon lo sendiri.
Contoh:
- Macet? Lo bisa pilih buat marah-marah, atau dengerin podcast seru sambil nunggu.
- Temen ghosting? Lo bisa nangis seminggu, atau nerima kalau itu di luar kendali lo.
Dengan fokus ke hal yang bisa dikendalikan, energi lo nggak kebuang percuma, mental lebih aman, dan hidup jadi lebih ringan.
4. Practice “Amor Fati” – Cinta Sama Takdir
Ini salah satu prinsip favorit anak Stoik: Amor Fati alias mencintai apa pun yang terjadi.
Artinya, alih-alih ngeluh, lo belajar buat nerima keadaan apa adanya, bahkan kalau itu bukan yang lo mau.
- Gagal interview kerja? Anggap itu kesempatan buat upgrade skill.
- Bisnis sepi? Mungkin semesta lagi nyuruh lo eksplor ide baru.
Dengan mindset ini, setiap kejadian—baik atau buruk—jadi bagian penting dari perjalanan hidup lo.
5. Nikmatin Momen Kecil
Sering banget kita nunda bahagia: “Nanti deh gue happy kalau udah punya rumah sendiri,” atau “Gue baru bisa tenang kalau gaji naik.” Padahal, Stoikisme ngajarin kita buat bersyukur sama hal-hal sederhana.
Contoh simple:
- Secangkir kopi pagi.
- Sinar matahari pas sore.
- Tawa receh sama temen.
Kalau lo bisa nemu kebahagiaan kecil kayak gini, hidup gini-gini aja pun jadi penuh warna.
6. Journaling: Bikin Catatan Biar Pikiran Nggak Kusut
Banyak filsuf Stoik kayak Seneca atau Marcus Aurelius rajin nulis jurnal buat refleksi diri. Buat anak muda jaman sekarang, journaling bisa jadi cara buat declutter pikiran.
Caranya gampang:
- Tulis 3 hal yang lo syukuri tiap malam.
- Catat hal yang lo pelajari hari ini.
- Tulis reaksi lo terhadap masalah, terus evaluasi.
Dengan nulis, lo jadi lebih peka sama emosi, bisa ngatur pikiran, dan nggak gampang meledak.
7. Terapin “Memento Mori” – Ingat Kalau Hidup Itu Sementara
Kedengeran agak dark, tapi konsep ini bikin lo lebih appreciate setiap detik.
Memento Mori artinya “ingatlah bahwa lo bakal mati”. Bukan buat nakut-nakutin, tapi biar lo sadar hidup ini berharga. Jadi:
- Kalau lo pengen bilang “makasih” ke orang tua, jangan tunggu besok.
- Pengen mulai bisnis kecil? Gas sekarang, jangan nunggu “waktu yang pas”.
- Mau minta maaf ke temen? Lakuin sebelum keburu terlambat.
Kesadaran akan keterbatasan waktu bikin lo lebih berani ngejar hal penting, meskipun hidup kelihatannya stagnan.
8. Detach Sama Hasil, Fokus Sama Proses
Anak muda sering stress gara-gara hasil: nilai IPK, jumlah followers, gaji, status. Stoikisme ngajarin buat lepas dari obsesi hasil.
Lo nggak bisa 100% kontrol apakah bisnis bakal meledak, tapi lo bisa kontrol usaha, strategi, dan konsistensi.
- Fokus latihan tiap hari, bukan cuma menang lomba.
- Fokus bikin konten berkualitas, bukan jumlah likes.
Kalau lo cinta sama proses, hasil jadi bonus, bukan sumber stres.
9. Minimalisme ala Stoik
Hidup gini-gini aja kadang terasa berat karena… kita kebanyakan barang dan ekspektasi. Stoikisme ngajarin hidup secukupnya:
- Pilih pengalaman daripada barang mahal.
- Kurangi konsumsi impulsif yang cuma nyenengin 5 menit.
- Investasi ke hal yang bener-bener bikin lo berkembang: skill, pendidikan, atau hubungan sehat.
Dengan hidup lebih simpel, lo jadi punya ruang buat hal yang penting beneran.
10. Bangun Mindset “Inner Fortress”
Stoikisme percaya kebahagiaan sejati datang dari kekuatan batin, bukan validasi luar. Lo harus punya “benteng dalam diri” yang bikin lo tetap tenang walau dunia lagi chaos.
Cara latihannya:
- Meditasi atau mindfulness tiap hari.
- Olahraga biar badan dan pikiran sinkron.
- Punya prinsip hidup yang jelas biar nggak gampang kebawa arus.
11. Terapin di Kehidupan Gen Z Sehari-hari
Biar relevan sama kehidupan kita sekarang, ini contoh nyata:
- Social Media Detox: Batasi waktu scrolling biar nggak kebawa bandingin diri.
- Micro Goals: Set target kecil kayak baca 10 halaman buku per hari.
- Slow Living: Nikmati aktivitas harian tanpa buru-buru.
Stoikisme bukan soal jadi biksu atau ngilang dari dunia, tapi soal bikin mindset kuat di tengah dunia digital yang serba cepat.
12. Hidup Gini-Gini Aja? Bisa Jadi Itu Justru Berkah
Banyak anak muda takut sama hidup yang keliatan “flat”. Padahal, fase gini-gini aja sering jadi momen terbaik buat:
- Ngebangun skill tanpa tekanan besar.
- Mengenal diri sendiri lebih dalam.
- Ngerancang masa depan dengan kepala dingin.
Kalau lo lagi di fase hidup yang biasa-biasa aja, jangan buru-buru pengen drama atau sensasi. Nikmatin prosesnya, karena di balik ketenangan itu banyak pelajaran yang bisa lo serap.
Chill, Bro. Hidup Itu Bukan Kompetisi
Stoikisme ngajarin kita bahwa hidup bukan tentang siapa paling kaya, paling sukses, atau paling viral. Hidup itu tentang gimana lo menjalani setiap momen dengan tenang, fokus, dan penuh makna.
Jadi, kalau lo ngerasa hidup gini-gini aja:
- Nggak usah panik.
- Fokus sama hal yang bisa lo kontrol.
- Nikmatin proses dan hal-hal kecil.
Karena pada akhirnya, ketenangan bukan datang dari dunia luar, tapi dari cara lo mikir dan respon setiap kejadian.
Jalanin, nikmatin, dan percayalah: bahkan hidup yang keliatan biasa-biasa aja bisa jadi luar biasa kalau lo pinter ngeliat maknanya.
Itulah cara anak muda ala Gen Z bisa tetap bahagia dan produktif, bahkan ketika hidup lagi “meh”. So, take a deep breath, keep calm, and embrace your inner Stoic.