Berhenti Jadi Orang Terlalu Baik Kalau Lo Nggak Mau Diinjek-Injek Terus! (Realita Pahit Dunia Kompetisi)

Berhenti Jadi Orang Terlalu Baik Kalau Lo Nggak Mau Diinjek-Injek Terus! (Realita Pahit Dunia Kompetisi)

  • December 26, 2025
  • |
  • Oleh Tim Axeel

Jujurly, kita semua pasti pernah punya teman yang pinternya nggak ngotak, punya segalanya buat sukses, tapi hidupnya gitu-gitu aja. Sementara itu, ada orang yang kesannya agak red flag, ambisius banget, bahkan cenderung manipulatif, malah kariernya melesat kayak roket. Fenomena ini bikin kita bertanya-tanya: kenapa ya orang baik seringnya kalah di garis finish? Ternyata, di dunia nyata yang penuh kompetisi ini, jadi terlalu baik itu bisa jadi bumerang yang bikin lo gampang diinjek-injek. Lo harus sadar kalau dunia ini nggak selamanya adil dan lo butuh lebih dari sekadar "hati malaikat" buat bisa bertahan, apalagi kalau lo mau masuk ke jajaran 1% orang tersukses di dunia.

Dunia kompetisi, entah itu di kantor, bisnis, atau investasi, nggak peduli seberapa sopan lo sama orang lain. Yang dunia peduliin adalah seberapa berani lo ambil keputusan, seberapa kuat lo bertahan di bawah tekanan, dan seberapa lihai lo dalam strategi "sikut-sikutan" yang sehat. Ada studi psikologi yang ngebahas soal tiga sifat gelap atau The Dark Triad—Narsisme, Psikopati, dan Machiavellianism—yang diam-diam dimiliki hampir semua tokoh besar dunia. Bukannya nyuruh lo jadi penjahat, tapi poin pentingnya adalah lo harus mulai belajar mengambil sisi positif dari sifat-sifat ini buat diaplikasiin dalam hidup lo. Siap buat level up dan berhenti jadi "kacung" keadaan? Yuk, kita bedah rahasianya!

Narsisme: Rahasia Pede Gila Biar Ide Lo Gak Diremehin

Narsisme sering banget dianggap sebagai penyakit mental atau sifat yang bikin orang risih karena kerjanya cuma muji diri sendiri. Tapi kalau kita tarik ke sisi positifnya, narsisme itu sebenernya adalah self-confidence yang di atas rata-rata. Orang sukses itu butuh rasa percaya diri yang tinggi, bahkan sampai di tahap yang orang lain bilang "nggak wajar". Kenapa? Karena kalau lo sendiri nggak percaya kalau ide lo brilian, jangan harap orang lain bakal percaya. Orang dengan trait narsisme yang terkontrol biasanya punya Karisma yang kuat banget. Mereka berani ambil keputusan bold, nggak takut ngomong di depan umum, dan jago banget dalam hal negosiasi atau sales.

Bayangin lo lagi presentasi di depan bos atau investor. Kalau lo terlalu humble dan malu-malu, orang bakal ragu sama kapabilitas lo. Sebaliknya, kalau lo punya sedikit bumbu narsisme, lo bakal terlihat sebagai orang yang yakin sama apa yang lo bawa. Ini bukan soal narsis yang tiap menit buka kamera buat selfie, tapi soal self-advocacy—kemampuan buat "menjual diri" dan menunjukkan kalau lo memang layak dapet panggung. Tanpa rasa pede yang tinggi, lo bakal terus-terusan kena imposter syndrome, ngerasa nggak pantes sukses padahal semua orang tau lo jago. Jadi, nggak ada salahnya mulai sekarang lo lebih berani buat stand out dan bangga sama pencapaian lo sendiri!

Psikopati: Belajar Jadi Dingin dan Fokus Biar Gak Gampang Baper

Mendengar kata psikopat mungkin bikin lo ngebayangin adegan film horor, tapi dalam psikologi kompetisi, psikopati di sini lebih ke arah ketahanan mental atau resilient. Orang dengan trait ini biasanya punya sifat bodo amat atau I don't give a fck* yang sangat kuat. Mereka nggak gampang keganggu sama opini negatif orang lain atau rasa bersalah yang nggak perlu. Dalam bisnis atau investasi, sifat "dingin" ini penting banget buat ngambil keputusan yang rasional tanpa dicampuraduk sama emosi sesaat. Mereka bisa fokus total sama tujuannya tanpa peduli hambatan mental yang seringkali nahan orang baik buat maju.

Belajar dari sifat ini bukan berarti lo jadi antisosial yang nggak punya hati, ya. Poinnya adalah gimana lo bisa punya mental baja yang nggak gampang tumbang pas gagal. Orang yang terlalu baik biasanya gampang nyesel, sering menyalahkan diri sendiri, dan kelamaan "healing" pas ada masalah. Sebaliknya, sifat yang agak "dingin" bikin lo bisa langsung bangkit, evaluasi strategi, dan coba lagi sampai berhasil. Lo juga bakal lebih pinter nyari celah atau kelemahan kompetitor tanpa rasa sungkan yang berlebihan. Jadi, kalau lo mau menang, sesekali lo harus bisa matiin perasaan baper lo dan fokus ke hasil akhir. Fokus adalah kunci, dan ketegasan adalah senjatanya.

Machiavellianism: Strategi Lihai Buat Jadi Pemenang di Atas

Machiavellianism adalah tentang kekuasaan dan strategi. Orang dengan trait ini biasanya sangat ambisius dan rela melakukan apa saja buat berada di posisi atas. Sekali lagi, versi ekstremnya emang buruk karena melibatkan manipulasi yang merugikan orang lain. Tapi kalau kita lihat dari sisi positifnya, ini adalah soal strategic thinking yang sangat matang. Lo harus pinter mengkalkulasi untung rugi dari setiap langkah yang lo ambil. Lo harus tau kapan harus maju, kapan harus mundur, dan kapan harus menggunakan pengaruh lo buat memenangkan keadaan. Orang sukses itu biasanya licik dalam artian positif—mereka sangat cerdik dan penuh taktik.

Kemampuan komunikasi yang charming dan persuasif adalah kunci dari sifat ini. Menjadi "manipulator" yang baik sebenernya sama aja dengan menjadi komunikator yang handal. Lo tahu apa yang orang lain mau denger dan lo bisa menyampaikannya dengan cara yang bikin mereka setuju sama visi lo. Di dunia kerja yang penuh intrik, lo nggak bisa cuma jadi "yes man" yang selalu bilang iya ke atasan atau rekan kerja. Lo harus tahu kapan harus naruh garis batas (boundaries) dan bilang "enggak" kalau itu merugikan lo. Tanpa ambisi dan strategi yang kuat, lo cuma bakal jadi pion di papan catur orang lain, bukannya jadi pemain yang pegang kendali.

Kenapa Orang 'Jahat' Lebih Sukses di Dunia Investasi & Crypto?

Ada realita unik di dunia investasi, terutama di pasar yang volatile kayak kripto. Ternyata, mereka yang bisa dapet cuan gila-gilaan itu biasanya punya sedikit unsur Dark Triad ini. Mereka berani ambil risiko tinggi yang orang "baik" atau "penakut" nggak bakal berani sentuh. Mereka punya kepercayaan diri yang ekstrem, bahkan kadang didorong sama teori konspirasi yang bikin mereka makin yakin sama asetnya. Sifat kalkulatif dan agak licik bikin mereka bisa baca tren lebih cepet dan nggak gampang kemakan fomo yang dibuat orang lain. Mereka nggak ngerasa bersalah buat take profit di saat orang lain lagi panik, karena mereka fokus sama keuntungan pribadi.

Banyak trader sukses yang punya mentalitas resilient luar biasa. Mereka nggak bakal rugi sampai "kena mental" berbulan-bulan cuma karena portofolio merah. Sebaliknya, orang yang terlalu baik biasanya gampang ragu, takut ambil resiko, dan ujung-ujungnya cuma dapet cuan recehan atau malah rugi gede karena telat masuk. Belajar dari sifat orang jahat bukan berarti lo harus curang, tapi lo harus punya confidence dan strategi yang matang buat memenangkan pasar. Di dunia keuangan, nggak ada tempat buat orang yang gampang goyah. Lo butuh insting yang tajam dan keberanian buat bertaruh besar kalau mau dapet hasil yang luar biasa juga.

Stop Jadi 'Yes Man': Berani Bilang Enggak Itu Skill Mahal!

Salah satu ciri orang yang "terlalu baik" adalah mereka punya tingkat agreeableness yang sangat tinggi. Mereka selalu setuju, nggak enak mau nolak, dan selalu pengen nyenengin semua orang alias people pleaser. Riset menunjukkan kalau orang yang terlalu gampang bilang "iya" biasanya kariernya nggak bakal lebih bagus daripada orang yang berani nolak. Kenapa? Karena kalau lo selalu nurut, orang nggak bakal liat lo sebagai pemimpin, tapi cuma sebagai kacung yang bisa disuruh-suruh. Lo harus punya harga diri dan tahu kapan harus berdiri buat kepentingan lo sendiri tanpa ngerasa bersalah.

Menolak sesuatu bukan berarti lo jahat atau sombong. Itu artinya lo tahu value diri lo dan lo punya standar yang jelas. Orang-orang narsistik atau yang punya ambisi tinggi biasanya sangat tegas soal ini. Mereka nggak bakal buang-buang waktu buat hal yang nggak dukung kesuksesan mereka. Dengan berani bilang enggak, lo sebenernya lagi membangun Karisma dan rasa hormat dari orang lain. Orang bakal lebih menghargai opini lo kalau lo nggak cuma sekadar jadi pengikut arus. Jadi, mulai sekarang, belajar buat naruh boundaries. Jangan biarkan kebaikan lo dimanfaatin orang lain buat kepentingan mereka sendiri sementara lo malah tertinggal di belakang.

Jangan Jadi Jahat, Tapi Jadilah Orang Baik yang Tangguh!

Kesimpulan besarnya bukan nyuruh lo jadi orang jahat beneran yang merugikan orang lain atau melanggar moral. Pesannya adalah jangan jadi orang yang "terlalu baik" sampai nggak punya taring. Poin utama dari The Dark Triad yang bisa lo ambil adalah sifat Pede, Ambisius, dan Fokus. Lo tetep bisa jadi orang baik yang suka nolong temen dan jujur, tapi lo juga harus punya sisi tangguh yang siap berkompetisi. Jangan sampai harga diri lo diinjak-injak cuma karena lo takut dibilang nggak baik. Ingat, dunia ini adalah tempat kompetisi, dan lo butuh mental pemenang buat bisa jadi juara.

Baik itu pilihan, tapi kuat itu keharusan. Kalau mau baik, sekalian sedekah atau bantuin orang yang butuh, tapi jangan biarkan kebaikan itu bikin lo jadi lemah di depan kompetitor. Lo harus punya self-awareness yang tinggi, tau kapabilitas diri, dan jangan ragu buat mengejar apa yang emang lo deserve untuk dapet. Stop ngerasa nggak pantes sukses atau terlalu humble sampai nggak berani menunjukkan siapa diri lo sebenernya. Jadilah orang baik yang punya pendirian, yang berani ambil resiko, dan yang fokus sama tujuannya. Dengan kombinasi hati yang baik dan mental yang kuat, lo nggak bakal cuma jadi penonton, tapi jadi pemain utama di panggung kesuksesan!