Berani Berkata Tidak Kunci Sukses dan Keluar dari Jebakan "Gak Enakan"

Berani Berkata Tidak Kunci Sukses dan Keluar dari Jebakan "Gak Enakan"

  • December 28, 2025
  • |
  • Oleh Tim Axeel

Banyak yang tidak menyadari bahwa sifat "gak enakan" bisa menjadi penghambat utama kesuksesan, bahkan bisa membuat seseorang jatuh miskin. Faktanya, di Indonesia, masalah keuangan seringkali bukan hanya soal investasi, melainkan rendahnya daya penghasilan (earning power) yang diperparah dengan ketidakmampuan melindungi diri sendiri dari eksploitasi orang lain. Menjadi orang yang selalu mengiyakan segalanya bukanlah sebuah kebaikan, melainkan bentuk kehilangan kontrol atas hidup sendiri.

Bahaya Menjadi "Gak Enakan"

Sifat gak enakan seringkali muncul karena kita terbiasa menganggap bahwa mengiyakan orang lain adalah hal yang baik. Padahal, dunia ini dipenuhi oleh orang-orang bertipe "pengambil" (takers) yang secara sadar maupun tidak akan terus mengambil waktu, energi, uang, hingga masa depanmu jika kamu tidak menetapkan batas.

Ketika kamu tidak bisa berkata tidak, kontrol hidupmu berpindah ke tangan orang lain. Kamu mengorbankan prioritasmu demi prioritas orang lain. Bayangkan jika kamu sedang fokus belajar untuk masa depan, lalu setiap hari diajak bermain hanya karena temanmu sedang ingin bersenang-senang. Jika kamu terus mengiyakan karena rasa gak enak, kamulah yang akan gagal mencapai targetmu, sementara orang tersebut tetap bahagia dengan dunianya.

Mengenal Garis Batas (Boundaries)

Hidup yang sehat membutuhkan garis batas yang jelas. Kamu harus mengenal dirimu sendiri untuk tahu kapan seseorang boleh masuk ke dalam garis pribadimu dan kapan mereka sudah melanggarnya. Tanpa batas, kamu akan diinjak-injak orang lain; sebaliknya, jika batasmu terlalu tajam, kamu bisa jadi orang yang menginjak orang lain.

Manusia secara alami akan "ngelunjak" jika terus diberi tanpa batas. Ironisnya, semakin sering kamu memberi tanpa syarat, bobot kebaikanmu justru akan mengecil di mata mereka. Mereka tidak lagi menghargai pemberianmu karena menganggapnya sebagai kewajibanmu. Edukasilah orang-orang di sekitarmu dengan menetapkan batas; itu bukan tindakan jahat, melainkan cara menjaga relasi agar tetap sehat dan saling menghormati.

Membedakan Empati dengan Gak Enakan

Penting untuk memahami perbedaan antara empati dan sifat gak enakan. Gak enakan bersumber dari pikiran yang turun ke hati—sebuah pola pikir yang merasa bersalah jika menolak orang lain. Sementara empati bersumber dari hati yang naik ke pikiran—ketika hatimu tergerak melihat beban orang lain dan pikiranmu mulai mencari cara untuk membantu dengan bijak.

Bahkan dalam profesionalisme, sifat gak enakan bisa merusak tim. Jika seorang pemimpin tidak enak menegur karyawan yang salah, karyawan tersebut tidak akan pernah berkembang, dan performa tim akan stagnan. Manusia yang paling kasihan adalah mereka yang dikelilingi oleh orang-orang yang "gak enakan", karena mereka tidak akan pernah mendapatkan kritik jujur untuk memperbaiki diri.

Menemukan Titik Tengah: Antara Tegas dan Egois

Langkah pertama untuk berubah adalah dengan memiliki nilai hidup (values) yang kuat. Jangan bersikap "bodo amat" secara membabi buta hanya karena egois. Belajarlah untuk berkata "Ya" atau "Tidak" dengan alasan yang masuk akal (reasonable).

  • Say Yes/No with a Reason: Bukan berdasarkan mood atau perasaan sesaat (seperti saat PMS atau sedang emosi), tapi berdasarkan prioritas dan logika yang sehat.
  • Proses Pendewasaan: Dalam perjalanan hidup, wajar jika awalnya kita terlalu ke kiri (sangat gak enakan) atau terlalu ke kanan (terlalu galak/tegas). Pendewasaan adalah proses mencari titik tengah yang realistis—versi diri yang mampu bersikap adem namun tetap punya prinsip yang kokoh.

Langkah Awal Menuju Perubahan

Jika saat ini kamu merasa terjebak dalam rasa gak enakan, langkah pertama yang paling efektif adalah memperkaya perspektifmu. Mulailah membaca literatur yang mengajarkan cara bersikap tegas dan tidak memusingkan hal-hal yang tidak penting. Keberanian untuk berkata tidak adalah otot yang perlu dilatih setiap hari.

Ingatlah, dengan menolong dirimu sendiri terlebih dahulu melalui penetapan batas, kamu sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk bisa menolong orang lain secara lebih berkualitas dan berkelanjutan di masa depan. Jangan biarkan hidupmu hancur hanya karena kamu takut merasa "tidak enak" pada orang-orang yang tidak peduli pada masa depanmu.