Dalam dunia digital marketing, terutama dalam iklan berbayar (paid ads), istilah ROAS (Return on Ad Spend) adalah salah satu metrik terpenting yang harus dipahami oleh setiap pebisnis maupun marketer. Metrik ini berfungsi untuk menilai sejauh mana efektivitas kampanye iklan yang dijalankan.
Banyak orang yang menghabiskan anggaran besar untuk iklan di Google Ads, Facebook Ads, Instagram Ads, TikTok Ads, atau marketplace seperti Shopee dan Tokopedia, namun tidak semuanya benar-benar mengetahui apakah iklan tersebut memberikan keuntungan atau justru kerugian. Nah, ROAS hadir untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Pengertian ROAS
ROAS (Return on Ad Spend) adalah rasio yang mengukur pendapatan (revenue) yang dihasilkan dari setiap rupiah yang dikeluarkan untuk iklan. Dengan kata lain, ROAS adalah cara menghitung seberapa efektif sebuah iklan dalam menghasilkan penjualan.
Jika ROI (Return on Investment) menghitung laba bersih terhadap total modal yang dikeluarkan, maka ROAS lebih spesifik: ia hanya fokus pada investasi iklan.
Contohnya:
- Jika Anda mengeluarkan Rp1.000.000 untuk iklan dan berhasil menghasilkan penjualan sebesar Rp5.000.000, maka ROAS Anda adalah 5:1 atau 500%.
- Artinya, setiap Rp1 yang Anda keluarkan untuk iklan menghasilkan Rp5 dalam bentuk revenue.
Rumus ROAS
Rumus dasar menghitung ROAS sangat sederhana:
ROAS = Biaya iklan/Pendapatan dari iklan
Hasilnya biasanya dinyatakan dalam bentuk rasio (misalnya 5:1) atau persentase (misalnya 500%).
Contoh Perhitungan 1:
- Biaya iklan: Rp2.000.000
- Revenue penjualan dari iklan: Rp10.000.000
ROAS=2.000.000/10.000.000 = 5
Artinya ROAS = 5:1 atau 500%.
Contoh Perhitungan 2:
- Biaya iklan: Rp5.000.000
- Revenue penjualan: Rp6.000.000
ROAS=5.000.000/6.000.000 = 1,2
Artinya ROAS = 1,2:1 atau 120%. Hasil ini tergolong rendah, karena margin keuntungan bisa saja habis untuk biaya produksi, ongkos kirim, dan operasional.
Perbedaan ROAS dengan ROI
Banyak yang salah kaprah dengan menganggap ROAS sama dengan ROI. Padahal keduanya berbeda:
- ROAS (Return on Ad Spend)
- Fokus pada efektivitas iklan.
- Mengukur berapa revenue yang dihasilkan dari biaya iklan saja.
- Tidak menghitung biaya lain (produksi, gaji, logistik).
- ROI (Return on Investment)
- Fokus pada profitabilitas bisnis secara keseluruhan.
- Menghitung laba bersih setelah semua biaya (iklan + operasional) dikurangi.
- Lebih menyeluruh dibanding ROAS.
Simpelnya, ROAS mengukur efektivitas iklan, sementara ROI mengukur keuntungan bisnis secara total.
Mengapa ROAS Penting?
ROAS adalah indikator kunci (KPI) yang wajib dipantau dalam digital marketing. Beberapa manfaat utama mengetahui ROAS antara lain:
- Mengukur efektivitas iklan
Anda bisa tahu apakah iklan menghasilkan keuntungan atau malah pemborosan. - Membantu pengambilan keputusan
Jika ROAS tinggi, iklan bisa diperbesar budgetnya. Jika rendah, kampanye perlu dioptimalkan atau dihentikan. - Mengoptimalkan strategi pemasaran
ROAS membantu marketer fokus pada channel atau strategi yang paling menguntungkan. - Kontrol anggaran yang lebih baik
Dengan menghitung ROAS, perusahaan bisa memastikan pengeluaran iklan sesuai target profit.
Berapa ROAS yang Ideal?
Tidak ada angka baku yang mutlak untuk ROAS ideal, karena setiap bisnis punya margin keuntungan yang berbeda. Namun secara umum:
- ROAS 1:1 (100%) → Balik modal iklan (break even), belum ada keuntungan.
- ROAS 2:1 (200%) → Sudah untung, tapi tipis.
- ROAS 4:1 (400%) → Termasuk bagus, banyak digunakan sebagai standar.
- ROAS 10:1 (1000%) → Sangat tinggi, biasanya sulit dicapai secara konsisten kecuali dengan produk margin besar.
Sebagai pedoman:
- Bisnis dengan margin tipis (misalnya elektronik, fashion fast-moving) biasanya butuh ROAS tinggi (4:1 ke atas).
- Bisnis dengan margin besar (misalnya produk digital, jasa) bisa bertahan dengan ROAS lebih rendah (2:1).
Faktor yang Mempengaruhi ROAS
Ada banyak faktor yang bisa membuat nilai ROAS berbeda antara satu bisnis dengan yang lain:
- Jenis produk dan margin keuntungan
Produk dengan margin besar lebih mudah mencapai ROAS tinggi. - Target audiens
Iklan yang tepat sasaran meningkatkan kemungkinan konversi. - Kualitas iklan
Copywriting, desain visual, dan CTA (Call to Action) berperan penting. - Channel iklan
Biaya iklan di Facebook, Instagram, Google, TikTok, hingga marketplace berbeda-beda dan mempengaruhi ROAS. - Customer Journey
Semakin panjang proses customer journey, semakin besar biaya akuisisi pelanggan, yang bisa menurunkan ROAS.
Cara Meningkatkan ROAS
Agar kampanye iklan lebih efektif dan menghasilkan ROAS tinggi, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan:
- Optimalkan targeting
Pastikan iklan menjangkau audiens yang relevan. Gunakan fitur interest, lookalike audience, atau keyword spesifik. - Gunakan retargeting
Tampilkan iklan kepada orang yang sudah pernah mengunjungi website atau keranjang belanja (remarketing). - Perbaiki landing page
Pastikan halaman tujuan iklan cepat, jelas, dan meyakinkan agar konversi meningkat. - A/B Testing iklan
Uji berbagai variasi iklan untuk menemukan kombinasi yang paling efektif. - Kontrol biaya per klik (CPC) atau per konversi (CPA)
Semakin efisien biaya per akuisisi pelanggan, semakin tinggi ROAS. - Fokus pada produk best seller
Dorong iklan ke produk dengan performa penjualan dan margin terbaik.
Studi Kasus Sederhana
Misalnya sebuah toko online fashion mengeluarkan Rp3.000.000 untuk iklan Facebook selama sebulan. Dari iklan itu, mereka berhasil menjual 150 produk dengan omzet Rp12.000.000.
ROAS=3.000.000/12.000.000=4
Artinya, setiap Rp1 yang dikeluarkan menghasilkan Rp4 revenue. ROAS = 4:1 (400%).
Jika margin keuntungan bersih produk tersebut adalah 30%, maka profit sebenarnya adalah Rp3.600.000. Dari sini bisa dihitung ROI secara keseluruhan.
ROAS dan Perhitungan
ROAS adalah metrik penting untuk mengukur efektivitas kampanye iklan. Dengan menghitung ROAS, Anda bisa tahu seberapa besar pendapatan yang dihasilkan dari biaya iklan yang dikeluarkan.
- Rumus ROAS = Pendapatan dari iklan ÷ Biaya iklan.
- ROAS membantu bisnis mengontrol anggaran iklan, mengukur efektivitas, dan membuat strategi pemasaran yang lebih baik.
- Tidak ada angka baku, namun ROAS 4:1 umumnya dianggap sehat.
- Untuk meningkatkan ROAS, optimalkan targeting, lakukan retargeting, perbaiki landing page, dan lakukan A/B testing.
Dengan pemahaman yang baik tentang ROAS, perusahaan tidak hanya bisa menilai apakah iklan mereka berhasil, tetapi juga bisa mengalokasikan anggaran dengan lebih bijak sehingga kampanye marketing benar-benar memberikan keuntungan maksimal.